Belajar Membaca Atau Mencintai Membaca?

Anggaplah saya kurang kerjaan sehingga harus membahas dua hal yang umumnya orang malas membahas. Ngapain juga membahas hal yang kelihatannya tidak jelas prospeknya. Apalagi tidak menimbulkan banyak keuntungan seperti cuan. Nambah-nambah kerjaan aja.
Namun, tetap saya tulis sih. Ini kan lapak saya. Heee
Bagi yang jeli dan suka hal njelimet, dua hal itu berbeda. Sungguh. Terlihat sama, tetapi berbeda, jauh. Nampaknya seperti berjalan pada rel yang sama, tetapi itu dua hal berbeda.
Sama-sama tentang membaca. Sama-sama belajar bagaimana anak bisa membaca, dengan cara yang berbeda. Dengan pemahaman yang berbeda, dan dengan pencapaian yang berbeda.
Seringkali soal belajar membaca kita hanya berhenti pada anak yang sudah bisa membaca. Jika anak sudah bisa membaca,maka sudah selesai. Dalam hal ini lebih ditekankan anak sudah mampu melafalkan sebuah kata atau kalimat.
Hanya seperti itu. Selesai. Anak dianggap telah berhasil mencapai target.
Seharusnya, tidak sesederhana itu. Jika kita mau sejenak mengurai kata membaca, seharusnya yang ada dalam pemahaman kita tidak sekedar melafalkan atau membunyikan kata atau kalimat. Namun, sampai memaknai apa yang dia baca. Memahami apa yang dibaca.
Lah, memang tujuan orang membaca kan begitu. Sampai paham maknanya, tidak hanya mampu membunyikan.
Jika tujuan kita bisa membunyikan kata saja, ya sudah, selesai. Tercapai. Jika tujuan kita biar anak mampu memahami makna bacaan, sepertinya perjalanan masih panjang. Tidak hanya sekedar butuh teknik biar bisa membunyikan kata, tetapi bagaimana anak tertarik untuk mengetahui maknanya dan tidak bosan membaca.
Itu sebuah perjalanan panjang dan pastinya membutuhkan cinta. Mencintai membaca. Cinta harus ditumbuhkan biar bersemi dan tidak mati.
Cinta butuh dihidupkan, diberi nyawa, supaya mampu menghidupi dirinya sendiri dan orang lain. Untuk mencintai membaca, membutuhkan ketertarikan. Daya tarik untuk terus menumbuhkan rasa cinta pada membaca.
Jika diibaratkan sebuah perjalanan, mencintai membaca adalah perjalanan dengan rute yang jauh dan butuh bekal banyak. Seperti lari marathon. Tidak butuh cepat sampai yang penting bagaimana konsistensi yang Kita jaga. Paham kan, konsisten adalah hal berat yang harus dilalui kalau kita ingin mencapai sebuah pencapaian yang besar.
Jadi, jika perjalanan membacamu ingin jauh, maka cintailah membaca. Jika perjalananmu hanya seperti lari sprint, maka cukup sampai bisa membaca. Gitu aja sih.


Komentar
Posting Komentar