Regulasi Emosi Anak Melalui Menulis
Mungkinkah?
Kenapa tidak?
Zaman dahulu, kita yang hari ini menjadi orang tua mengenal adanya menulis diary. Biasanya kita lakukan di buku tulis yang bagus untuk menambah semangat dan memperindah buku. Aktifitas ini dilakukan oleh banyak anak, baik laki-laki maupun perempuan. Sangat lazim pada saat itu.
Anak sekarang, para Gen Z tidak mengetahui adanya aktifitas seperti itu. Mereka lahir bahkan di dalam perut ibunya sudah mengenal adanya internet, bukan buku tulis lagi. Lalu aktifitas menulis pun pindah lewat HP. Sayangnya tidak banyak anak yang menyukainya. Alih-alih menggunakan HP untuk menulis, mereka lebih suka menggunakan HP untuk melihat tayangan atau konten vidio.
Sudah kenyang rasanya mendengar, membaca, dan melihat bagaimana menggunakan HP secara berlebihan akan membawa dampak yang buruk untuk anak. Paling sering yang dialami anak adalah persoalan emosinya. Sayangnya teori itu seperti tertahan di kotak kepala kita saja, tidak dipraktekkan di dunia nyata. Para orang tua kalah dengan kemauan anak dengan dalih supaya anak tenang dan tidak menangis.
Padahal anak menangis karena keinginan yang tidak terpenuhi adalah suatu hal yang logis, sangat wajar. Seharusnya yang kita lakukan adalah bagaimana menangani emosi anak tersebut. Bagaimana anak mampu menelaah emosinya lalu memiliki solusinya.
Namun, berapa banyak orangtua yang akan menempuh jalan seperti itu. Memahamkan anak akan emosinya sendiri agar bisa mencari solusi atas emosinya sendiri? Pastinya tidak banyak, karena butuh effort untuk melakukannya.
Baru-baru ini muncullah aktifitas baru yang serupa menulis diary, yakni aktifitas journaling. Sama-sama menulis, hanya saja diary yang kita tulis sejak zaman dahulu lebih berfokus pada aktifitas menulis perasaan, peristiwa atau hal-hal berkesan lainnya. Sedangkan journaling, selain menuliskan peristiwa harian juga menuliskan ide, gagasan, atau goals yang ingin dicapai, pemikiran yang lebih dalam. Bisa juga checklist harian tentang hal-hal yang harus dilakukan hari ini.
Buat saya journaling seperti update program dari menulis diary zaman dahulu. Intinya sama-sama menjadikan menulis sebagai basis kegiatannya.
Beberapa waktu lalu, teman saya bercerita lewat akun sosial medianya, bahwa anaknya sudah melakukan aktifitas journaling sejak usia 3 tahun. Meski tentu saja saat itu hanya berupa gambar. Saat itu juga saya merasa, wah ini nih yang seharusnya saya lakukan ke anak. Selama ini, dalam bayangan saya, journaling harus dilakukan oleh orang dewasa saja. Tidak tahunya bisa juga dilakukan anak-anak. Toh dulu zaman nulis diary juga anak-anak menulis diary.
Akhirnya saya putuskan, Ohi harus menulis nih. Agenda yang sudah saya rancang lama dan sebenarnya sudah pernah berjalan saat kelas 2 dan harus terhenti karena saat itu laptop saya rusak. Klise benar alasan si ibuk. Sekarang, tanpa laptop Ohi harus melakukan journaling, saya pakai journaling biar keren. Wkwk. Bukan begitu sih, ini biar kedepannya tulisan Ohi lebih berkembang. Itu harapan saya sih. Tidak hanya sekedar menulis pengalaman pribadi, tapi lebih ke mampu menuliskan pendapat pribadi.
Kenapa harus menulis?
Regulasi emosi yang praktis dan bisa dilakukan sendiri oleh Ohi. Nantinya ibuk tinggal menambah yang kurang, menyambung cerita, menyalurkan emosi lainnya lewat bercerita harian. Bagi saya ini lebih praktis dan mengurangi perang ibuk vs Ohi. Mari kita gencatan senjata aja yah, kita ganti perang tulisan saja kedepannya. Wkwk
Saya sendiri merasakan dan menyakini bahwa writing is healing. Menulis adalah salah satu cara saya menyembuhkan luka-luka pribadi yang saya rasakan. Benar-benar menyembuhkan, selain itu, semua hal yang memenuhi pikiran saya sungguh minta dituangkan dalam bentuk tulisan. Rasanya setelah berhasil menulis itu lega dan plong. Pastinya meninggalkan satu hal baru, ada saja ide baru yang muncul dan minta dituliskan lagi.
Hey, anak gantengku, selamat menulis ya. Semoga kamu tabah menjalani prosesnya. Tenang saja, ibumu akan dengan senang hati jadi TOA buat mengingatkan kalau kamu lupa nulis. Aktivitas begini tidak ilegal kok, sangat lazim. Ini nih yang dilakukan para akademisi negara maju untuk anak-anak didiknya; menulis.
Nih ibuk temani menulis juga di sini. Love sekebon pokoknya.


Komentar
Posting Komentar