Tantangan Buku Dari Ohi

Beberapa saat lalu, saya ditantang oleh anak sulung saya, Ohi. Dia sekarang berusia 9 tahun, baru duduk di kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah.
Ohi menantang saya membaca novel fiksi remaja yang sudah dibacanya hingga 3 kali khatam. Fiksi remaja ini saya yang belikan. Niatnya memang mencoba menaikkan level bacaan Ohi.
Kali terakhir bacaan Ohi seputar ensiklopedi saja. Iseng saya merayunya untuk bersedia membaca fiksi anak. Meski ternyata buku yang saya belikan jatuhnya fiksi remaja, tak masalah. Isinya pun menarik minatnya dan masih aman dibaca anak seusianya.
Saya tidak menyangka dia akan khatam lebih dari sekali. Awal memulainya saat bulan puasa kemarin. Untuk mengisi waktu menunggu berbuka, saya sarankan baca buku saja, daripada bingung mau melakukan apa.
Syukurnya dia menyukainya dan justru menantang ibunya untuk selesai membacanya dalam waktu 3 jam. Oke, tantangan diterima.
“Siapa takut?“ begitu pikir saya.
Setelah ikut membacanya ternyata buku berjudul Selestia dan penjara teka-teki sangat saya rekomendasikan dibaca anak-anak yang sudah lancar membaca. Meski tokohnya berusia kelas 7 SMP, tapi buku ini bisa juga dibaca anak di bawah usia tersebut.
Buku ini menceritakan tentang asyiknya petualangan bersama teman sebaya. Penulis sengaja membuat cerita yang penuh imajinasi, untuk melatih daya imajinasi anak yang membacanya. Ah, saya tidak sedang menuliskan review buku Selestia dan penjara teka-teki. Baca sendiri saja atau kapan-kapan saya tuliskan review lengkapnya.
Ini soal tantangan Ohi. Suatu hal yang tidak saya sangka. Rasa-rasanya kesedihan dan capeknya membacakan buku sejak umur 2 tahun terbayar dengan baik. Kegiatan membacakan buku ke anak saat itu, suatu hal yang cukup mendapat cemoohan dari sekitar dan dianggap tidak perlu membuat saya sedih dan hampir patah semangat.
Saya memilih bertahan dengan sebuah pikiran sederhana, daripada anak lihat gawai mending saya bacakan buku, toh saya nganggur juga. Hanya di rumah saja. Hasilnya, cukup menggembirakan. Meski Ohi tetap saja menikmati tontonan di gawai, paling tidak ada aktivitas lain dan jam melihat gawai bersedia dibatasi.
Perjalanan membacakan buku ke anak bukan hal sederhana. Banyak hal, banyak faktor dan banyak poin yang ingin dicapai. Kapan-kapan saya ceritakan dengan lebih rinci. Yang jelas tantangan yang tidak saya sangka dari Ohi ini cukup membuat lelah saya terobati.
Next, kira-kira buku apalagi yang akan Ohi tantangan ke saya?


Komentar
Posting Komentar