Pendidikan Karakter, Sebuah Trend Baru? (part 3)

Beberapa tahun ini, dunia pendidikan kita ramai oleh sebuah frasa, pendidikan karakter. Bahwa pendidikan tidak melulu akademis, tetapi karakter baik, sikap baik harus diutamakan juga. Bahwa hanya mengejar akademis saja tidaklah cukup. Apakah artinya, selama ini pendidikan kita jauh dari mengajarkan karakter baik ke anak didik? Begitukah?
Apakah orang-orang yang akademisnya bagus tidak memiliki karakter baik? Atau orang yang akademisnya kurang bagus lalu memiliki karakter yang baik?
Mana yang harus didahulukan, karakter baik atau akademis yang baik? Atau harus berjalan beriringan?
Tak pernahkah founding father bangsa ini mengajarkan tentang pentingnya karakter dalam mendidik. Pentingnya kemampuan akademis. Manakah yang harus dijalani dahulu. Dua hal itu harus beriringan atau sebuah urutan dengan rentang waktu tertentu?
Mari menengok sejarah pendidikan di Indonesia. Era Ki Hajar Dewantara masih hidup, beliau telah membuat rancangan dan rincian, apa saja yang harus ada dalam pendidikan, atau kita sebut saja filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.
Prinsip pendidikan atau filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat progresif, diantaranya;
1. Pendidikan yang Berbasis pada Kebudayaan dan Kearifan Lokal. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan yang berbasis pada kebudayaan dan kearifan lokal. Ia percaya bahwa pendidikan harus relevan dengan kebutuhan dan konteks masyarakat setempat.
2. Pendidikan yang Berorientasi pada Pembentukan Karakter. Ki Hajar Dewantara percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan moralitas. Ia menekankan pentingnya pendidikan yang membentuk siswa menjadi individu yang berkarakter baik dan memiliki integritas.
3. Pendidikan yang Demokratis dan Inklusif. Ki Hajar Dewantara percaya bahwa pendidikan harus demokratis dan inklusif, artinya semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau agama.
4. Pendidikan yang Berbasis pada Pengalaman dan Praktik. Ki Hajar Dewantara menekankan pentingnya pendidikan yang berbasis pada pengalaman dan praktik. Ia percaya bahwa siswa harus belajar melalui pengalaman langsung dan praktik, bukan hanya melalui teori.
5. Tut Wuri Handayani. Ki Hajar Dewantara juga memiliki semboyan "Tut Wuri Handayani", yang berarti "di belakang memberi dorongan". Semboyan ini menekankan pentingnya peran guru sebagai fasilitator dan pemberi dorongan bagi siswa, bukan sebagai otoritas yang dominan.
See?
Bahkan bapak yang hari lahirnya dinobatkan sebagai hari pendidikan nasional bangsa Indonesia telah merincikan dengan baik bagaimana pendidikan harus berjalan. Bagaimana karakter baik yang dimiliki seorang ilmuwan, ahli ilmu akan membuatnya menjadi pribadi yang mulia. Tidak hanya berilmu tetapi memiliki karakter yang baik.
Filosofi pendidikan ala Ki Hajar Dewantara telah digaungkan sejak tahun 1900-an. Ratusan tahun yang lalu. Hari ini, sepertinya masih sangat relevan dan tidak perlu menggantinya dengan hal baru.
Pertanyaan yang seharusnya muncul adalah, apakah para pendidik hari ini memahami hal itu dengan baik? Ataukah sistem pendidikan kita sudah tidak sepakat dengan pemikiran beliau? Kenapa hari ini bisa muncul frasa pendidikan harus berkarakter, tidak cukup akademis saja. Bukankah menjadi pendidik memang harus memiliki karakter dan keilmuan yang baik? Sudah digagas ratusan tahun silam oleh beliau, Ki Hajar Dewantara.
Siapa yang tidak paham gagasan beliau disini? Sistem yang berjalan? Para pendidik? Siapakah?
Kemudian hari ini kita masih memperingati tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan nasional sekaligus hari lahir beliau tanpa mau meneladani gagasan beliau, pantaskah? Etiskah? Sopan kah? Tidak malu?


Komentar
Posting Komentar