My Society, My University (part2)

My Society, My University (part 2)
Puluhan tahun yang lalu saat saya masih menghirup dinginnya udara kota Malang, seseorang selalu mendengungkan mantra ini. Hampir tiap pagi, selama bertahun-tahun. My society is my university. Lingkungan sosial ku adalah universitas ku. Beliau Prof. Dr. K.H. Achmad Mudlor, S.H.
Beliau tidak pernah lelah menyampaikan kalimat itu beribu kali ke hadapan kami. Para mahasiswa yang pikirannya sedang aktif-aktifnya. Finally, itu terngiang-ngiang sampai saya jadi ibu rumah tangga, beranak pinak dan merasakan jadi pendidik untuk anak-anak sendiri.
Begitulah mental pendidik, tidak mau lelah menjadi teladan, membangun semangat, dan mensupport dari belakang. Itu pula yang dilakukan Ki Hajar Dewantara ratusan tahun silam.
Tidak lelah menggaungkan jargon penyemangat yang hampir sama, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Kalimat yang berbeda tetapi memiliki esensi yang sama.
Hari ini, apa kabar saya, yang katanya menjadi pendidik anak-anak di rumah. Madrosatul Ula-nya anak-anak sendiri di rumah. Sudahkah menjadikan rumah sebagai sekolah, sebagai universitas, sebagai tempat belajar bagi penghuninya?
Sudah. Pasti sudah.
Pertanyaannya bukan itu seharusnya. Pertanyaan yang tepat, pelajaran apa yang diajarkan di rumah? Hal apa yang dipelajari, diajarkan pada seluruh anggota rumah? Sudah layakkah pelajaran itu diajarkan untuk anggota rumah. Sudah sesuaikah dengan kapasitas mereka?
Apa yang dipelajari dan diajarkan seorang laki-laki dewasa bernama bapak, sekaligus sebagai kepala keluarga, suami, kepala sekolah di rumah itu.
Apa yang dipelajari dan diajarkan seorang perempuan dewasa bernama ibu, sekaligus sebagai anggota keluarga, istri, pendidiknya anak-anak di rumah itu.
Apa yang dipelajari anak pertama. Anak kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Lalu apa yang harus dipelajari dan diajarkan jika di rumah itu ada orang yang lebih tua, seperti kakek, nenek, atau anggota keluarga yang lain.
Ya. Bahkan dalam sebuah rumah terdapat society. Sekelompok orang yang hidup bersama dan tentunya punya kepribadian yang beda-beda yang membutuhkan harmoni. Bagaimana biar harmoni? Aturan. Aturan yang mengikat masing-masing anggota society sesuai kapasitasnya.
Lalu bagaimana menjadikan rumah, keluarga, society terkecil dari sebuah negara menjadi selevel sekolah atau universitas. Tempat para penghuninya untuk belajar, terutama belajar tentang bagaimana caranya hidup dan keberlangsungan kehidupan. Kehidupan yang tentunya mendapat ridho dari pemilik kehidupan itu sendiri. Sudahkah mengarah kesana, atau justru makin menjauh?
Ternyata bisa serumit itu kan. Baru sadar saya setelah menikah, dan memiliki anak. Jika dulu saya memutuskan tidak menikah, mungkin tidak akan pernah tahu, paham dan merasakan rumitnya membangun ‘sekolah’ di rumah sendiri.
Pertanyaan selanjutnya untuk diri saya sendiri adalah, sudahkah saya meneladani profesor saya atau Ki Hajar Dewantara untuk tidak lelah menjadi pendidik. Dengan segala kesulitan dan rintangan yang ada, masih mampukah saya?
Bahkan, hari ini saya sudah sambat. Lelahnya. Kenapa anak-anak begini amat kelakuannya. Kenapa bapaknya anak-anak gitu amat kelakuannya. Kenapa saya gini-gini amat hidupnya. Dan kenapa-kenapa yang lain.
Entah besok saya harus sambat apalagi. Apalagi sambat hari ini sungguh tak perlu pergi ke rumah tetangga. Bahkan lewat sosial media-pun bisa sambat, dengan mudahnya.
Wahai para guru, bagaimana caranya supaya saya berhenti mengeluh dan tak merasa lelah mendidik? Bagaimana saya menjadi pendidik yang penuh kualitas, dedikasi, dibanggakan anak-anak, dan diridhoi oleh Alloh. Suatu hal yang akan saya jalani seumur hidup. Apakah saya akan lulus atau lolos?
Bagaimana ini?


Komentar
Posting Komentar