Mengembalikan Fungsi Rumah (part. 4)

Published from Blogger Prime Android App


Ribuan langkah dimulai dari satu langkah kecil, begitulah kalimat yang pernah dilontarkan Gus Dur, presiden ke-4 RI. Bahwa segala hal besar selalu dimulai dari hal kecil. Semua langkah ada urutannya, ada runtutan-nya, ada hirarki-nya. 


Begitu juga ilmu, harus memiliki urutan. Begitu juga pendidikan, harus runtut, jelas fase demi fasenya. 


Ketika urutan dilanggar, pasti akan ada konflik yang pelik. Ketika langkah kita maunya sudah di km 7, padahal km 0 kita saja masih belum dilangkahi, pasti akan ada masalah yang tidak mudah. Idealnya langkah, dimulai dari km 0, km 1, km 2, dan seterusnya. 


Saat nasib pendidikan hari ini begitu menyedihkan, sistem yang tidak bersahabat dengan rasa manusiawi kita, pendidik yang kehilangan arah tanpa diberi peta yang menjadikan mereka pribadi yang memiliki ‘ruh’, lalu bisa dibayangkan bagaimana nasib anak didik. Segala permasalahan pendidikan yang muncul hari ini bisa sebagai jawaban konkrit atas tidak urutnya langkah kita. 


Bayangkan saja seorang bayi yang urutannya baru mampu tengkurap dulu baru berguling ke kanan dan ke kiri, tapi dia diminta berjalan bahkan berlari. Hal apa yang kira-kira bakal terjadi? Menangis jelas. Secara fisik belum mampu sehingga rawan jatuh, atau bergerak tidak beraturan dan merugikan. Siapa yang dirugikan? Dirinya sendiri dan orang disekitarnya, tentu saja. 


Itu kenapa fase, urutan, runtutan, menjadi hal yang harus dilampaui, jangan sampai terlewat. 


Bagaimana fase pendidikan yang seharusnya? Mari kita urai.


Sebelum masuk dunia sekolah, pendidikan yang memiliki sistem yang sudah diatur negara atau pihak yang berwenang, apakah seorang anak adalah pribadi yang kosong, tidak memiliki pendidikan? Jawabannya tentu tidak. Bahkan jika pendidikan itu bernama tempat penitipan anak seperti daycare sekalipun, sebelum itu anak telah memiliki pendidikan. 


Dimana? Rumah, itulah jawabannya. 


Semua anak menjadikan rumah sebagai tempat pendidikan pertama sebelum mengenal pendidikan formal dengan sistem pemerintah atau pihak yang berwenang. Daycare sekalipun, tetap saja pendidikan pertama seorang anak adalah rumah. Pendidiknya adalah kedua orang tuanya. Ayah sebagai kepala sekolah dan ibu sebagai pendidik. 


Sudahkah kita menjadikan rumah sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak kita? Sebelum ia mengenal sekolah, teman, lingkungan sosial. Bahkan setelah ia mengenal teman, sekolah dan lingkungan sosial, rumah tetap menjadi tempat pendidikan yang pertama dan utama bagi seorang anak. Begitupun ayah dan ibunya tetap menjadi pendidik yang pertama dan utama bagi anaknya, selamanya. 


Tak perlulah kita jauh-jauh mengurusi bagaimana kondisi sekolah hari ini, kurikulum hari ini, sistem hari ini. Yang sangat perlu kita pikirkan dan benahi adalah rumah kita sendiri. Sudahkah memiliki sistem pendidikan yang baik. Sudahkah memiliki kurikulum yang tepat. Sudahkah ayah ibunya menempa diri menjadi pendidik yang baik. Sudahkah? 


Jika hari ini langkah pendidikan kita terlanjur berada di km 10, atau berapapun, mari sejenak menengok ke belakang. Ke km 0, jangan-jangan banyak hal yang belum kita lakukan. Banyak langkah yang belum kita lalui. Memang terlambat, tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Better late than never.


Berbenah. Berubah. Mulai dari diri sendiri. Seperti dawuh Ki Hajar Dewantara, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Resapi dan terapkan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum ke anak. 


“Ah, saya hanya perempuan biasa, tidak bisa mendidik anak. Pendidikan saya rendah.” 


Ada yang beralasan begitu? 


Ada sebuah hadist meski dhoif tetapi bagus untuk diambil manfaatnya, hadits ini masyhur di kalangan umat Islam. Hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah. 


طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة 


“Menuntut ilmu (amat sangat) wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. “


Sebagian ulama tidak menyertakan lafal “wamuslimatin” karena lafal sebelumnya sudah menunjukkan keduanya, yakni muslim dan muslimat. 


Perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam menuntut ilmu, menjadi ahli ilmu, menjadi terdidik, memiliki derajat yang sama. Bahkan dalam sebuah syair, penyair Ahmad Syauqi mengatakan betapa kerennya perempuan yang memiliki ilmu. 


الأُم مَدْرَسَةُ الْأُوْلَى, إِذَا أَعْدَدْتَهَا أَعْدَدْتَ شَعْبًا طَيِبَ الْأعْرَاقِ 


"Ibu adalah madrasah yang pertama, jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya​​​​​​.”


Masyhur sebuah perkataan, mendidik satu laki-laki sama dengan mendidik satu orang saja. Sedangkan mendidik perempuan sama dengan mendidik satu generasi. Betapa tanggungjawab menjadi perempuan terdidik adalah sebuah jihad yang heroik bagi perempuan. Ditangannyalah lahir generasi-generasi yang akan mewarnai masa mendatang. 


Dengan perempuan menjadi pendidik dan laki-laki menjadi kepala sekolah, sudahkah rumah kembali menjadi kombinasi yang demikian? Tempat seorang anak lahir dan bertumbuh menjadi manusia yang utuh. Bertanya sendiri, jawab sendiri. 



Komentar

Postingan Populer