Mengapa 2 Mei? (part 1)

Tulisan ini adalah curahan hati seorang ibu yang menjadi pendidik anak-anaknya di rumah. Tentang dirinya sendiri, tentang anak-anak tentang pendidikan hari ini. Sepertinya tulisan ini akan dibikin panjang dan lebih dari satu tulisan. Selamat membaca!
Mengapa 2 Mei?
Sekilas kalau kita mau menilik sejarah lahirnya hari pendidikan nasional adalah karena seorang bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang lahir tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Kemudian beliau lebih dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara. Beliau memiliki konsern dengan dunia pendidikan kala itu.
Berkat statusnya sebagai seorang raden, beliau mampu mengenyam pendidikan yang bagus. Kala itu status sosial sangat dihormati dan salah satu akibatnya yakni mampu mengenyam pendidikan yang bagus.
Ki Hajar Dewantara memulai pendidikannya di Sekolah Dasar Belanda (Europeesche Lagere School) di Yogyakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Belanda (Hoogere Burgerschool) di Semarang. Ki Hajar Dewantara juga melanjutkan pendidikan tinggi. Namun, tidak menyelesaikan pendidikannya karena lebih memilih untuk terlibat dalam perjuangan kemerdekaan dan pendidikan rakyat.
Beliau memiliki ketertarikan yang sangat bagus dengan dunia pendidikan terutama pendidikan untuk rakyat. Makanya beliau mendirikan perguruan Taman Siswa. Sekolah yang mampu mewadahi masyarakat dari status sosial apapun.
Berkat jasa beliau lah, pemerintah melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tepatnya tanggal 16 Desember 1959 menjadikan hari lahir beliau sebagai hari pendidikan nasional. Sebagai penghormatan dan penghargaan atas dedikasi dan pemikiran beliau terkait pendidikan.
Tanggal 2 Mei hingga kini diperingati secara nasional sebagai HARDIKNAS. Anak-anak tidak libur tapi melakukan upacara dan sebagainya.
Satu pertanyaan yang menggelitik adalah, masihkah hari ini kita meneladani visi misi pendidikan yang beliau gaungkan? Atau kita menganggap beliau hanya sebagai ikon semata, batu loncatan untuk meraih metode pendidikan yang lebih menguntungkan?
Tanya sendiri di dalam hati dan jawab sendiri di hati.
Masihkah kita mengenal semboyan beliau yang sangat masyhur itu. Ing ngarso sung tuladha. Ing madya mangun karso. Tut wuri handayani.
Masihkah?
Atau sudah melupakannya? Lagi-lagi jawab saja sendiri.
Saya pun sedang berpiikir, apakah saya sudah menjadi contoh yang baik untuk anak-anak saat berada di depan mereka, dilihat oleh mereka, berhadapan dengan mereka. Ataukah saya lebih banyak memerintah daripada memberi contoh nyata.
Sudahkah saya menjadi motivator, pemantik ide yang ulung untuk anak-anak, saat bersama mereka, berada di tengah-tengah mereka. Jangan-jangan saya lebih banyak mendikte tanpa memberi kesempatan anak-anak latihan berpikir sendiri.
Lalu sudah legowo-kah saya saat anak-anak memilih idenya sendiri, jalannya sendiri yang bisa jadi berbeda dengan keinginan saya kemudian saya hanya bagian memantau dari belakang. Atau jangan-jangan saya lebih suka mendiktekan segala keinginan saya meski di belakang.
Entahlah.
Terkadang saya hanya tahu melangkah tanpa paham arah yang dituju. Hanya memaknai harus begini, harus begitu bukan karena butuh. Lebih karena zaman mengharuskan berbuat begitu tanpa sadar, butuh nggak sih sebenarnya. Terkadang juga karena melihat banyak orang melakukan hal yang sama, maka saya harus bersikap serupa. Tanpa melihat diri sendiri, mampu tidak ya? Butuh tidak ya? Etis tidak ya?
Masihkah saya layak mengakui 2 Mei sebagai hari lahir pendidik penuh dedikasi pada zamannya saat saya tidak mampu meneladani ajaran beliau?
Harus malu atau masa bodoh?


Komentar
Posting Komentar