Haruskah Homeschooling?

Published from Blogger Prime Android App

Homeschooling atau beberapa memahami sebagai sekolah rumah, sekolah di rumah, memindahkan sekolah ke rumah. Apapun itu pemahamannya. Intinya menjadikan rumah layaknya sekolahan. Ada jam belajarnya, ada aturan mainnya, ada pengajarnya, ada kurikulumnya. Bedanya si anak di rumah saja tidak perlu pergi keluar dan berbaur dengan anak lainnya. 


Saya pernah mempraktekkan homeschooling ini meski dalam bentuk yang tidak sempurna, karena keterbatasan pengetahuan dan waktu. Of course, Ohi jadi malpraktek saya buat ide-ide homeschooling itu. Hasilnya? Meski tidak memenuhi standar yang saya pikirkan, tapi cukup bagus. Saya cukup puas dengan kondisi saat itu yang tidak kondusif. Ketagihan sebenarnya, hanya terbatas waktu dan kesibukan lainnya. Takut terbengkelai. 


Apa sih keunggulan homeschooling? 


Berdasarkan pengalaman yang pernah saya lakukan, kelebihan sekolah di rumah ini diantaranya, 

  1. Kurikulum

Ini jelaslah, karena kurikulum bikin sendiri, disesuaikan sendiri dengan kebutuhan anak dan pengajar. Paling penting memiliki arah belajar yang jelas, bukan semata perolehan nilai tetapi sudah mencapai standar yang dibikin apa belum. Bahkan kurikulum ini bisa dibikin lebih fleksibel antara pengajar dan yang diajar. Bisa didiskusikan, mau belajar apa, sampai target berapa, dan sebagainya. Kurikulum yang mengikuti anak bukan anak yang harus mengikuti kurikulum. 


  1. Waktu 

Juara feksibelnya. Bisa diatur sendiri, jam belajar juga bisa disepakati sesuai kondisi pengajar dan yang diajar. Bisa juga disesuaikan dengan mood keduanya. 


  1. Tanpa Tekanan

Siapa yang mau memberi tekanan memangnya? Toh kurikulum ini berlandaskan kesadaran, tanggung jawab, dan disesuaikan kebutuhan. Murid jumlahnya juga lebih sedikit. Tidak perlu ada persaingan, adanya bersaing dengan standar yang diterapkan. Sudah tercapai atau belum.


  1. Evaluasi

Soal evaluasi tentunya sesuai yang diinginkan pengajarnya. Mau evaluasi model bagaimana. Tidak melulu melalui ujian, bahkan evaluasi bisa diagendakan harian. Tak masalah. Mau diformat seperti apa, terserah saja. 


Tentu saja program homeschooling ini memiliki kekurangan. Salah satunya tidak semua orangtua mampu menjadi pengajarnya, atau menyediakan pengajaran model homeschooling.


Secara pengalaman sosial anak cukup kurang. Bukan berarti anak yang homeschooling anti sosial atau tidak bisa bersosialisasi, hanya kurang banyak saja. Namun, disesuaikan dengan tujuan. Jika tujuan orangtuanya memang begitu, mengurangi konflik sosial, bukan berarti anti sosial, tidak masalah. 


Kesan eksklusif terlihat dalam program homeschool, meskipun hari ini makin banyak diminati dan pemerintah memberikan peluang lebih baik terkait penyetaraan ijazah anak homeschooling. Padahal, konsep homeschooling ini telah ada sejak era sebelum kemerdekaan. Para priyayi dan kalangan agama yang tidak sepakat dengan pendidikan model Belanda banyak melakukan homeschooling. 


Artinya, konsep homeschooling bukanlah konsep yang buruk. Hanya sistemnya tidak mampu dilakukan oleh semua orangtua. 


Namun, ada hal-hal yang bisa diambil dari konsep homeschooling ini. Prinsip-prinsip sekolah rumah ini sangat layak diterapkan di rumah juga di sekolah. Misalnya, rumah juga memiliki kurikulum pendidikan. Memiliki aturan yang disepakati oleh semua pihak, baik orangtua atau anak. Jadi, anak di rumah pun mengenal pendidikan tidak hanya di sekolah. 


Hal-hal baik yang diajarkan di sekolah bisa dilanjutkan di rumah bahkan lebih baik. Rumah dan sekolah sama-sama memiliki aturan main yang jelas dan harus dipatuhi.


Kerjasama pendidikan di sekolah dan di rumah ini harapannya akan menciptakan anak yang tidak hanya tahu aturan, tetapi paham serta mampu melaksanakan dimanapun dia berada. 


Pendidikan anak bukan lagi tanggung jawab sekolah saja, justru di rumah. Rumah adalah tempat dimana waktu anak lebih panjang daripada di sekolah, seharusnya konsep pendidikan lebih bisa diciptakan. 


Jadi, anak-anak harus homeschooling? Tidak juga. Hanya menerapkan konsep homeschooling saat anak di rumah tidak ada salahnya. Mungkin istilah yang lebih tepat home education. Pendidikan berbasis rumah, dimana di rumah pun anak-anak memiliki kurikulum yang harus dijalankan. Memiliki aturan-aturan sesuai usia anak demi menunjang keberhasilan anak. Menjadi anak yang memiliki keterampilan yang baik, kemandirian yang bagus, ibadah yang bagus, dan perilaku sosial yang bagus. 


Mungkinkah? Mungkin saja. 

Sulitkah? Bisa dijawab sendiri, yang jelas tanggung jawab utama pendidikan anak bukan pada guru sekolah melainkan orangtuanya di rumah. Seorang guru yang sudah mengajarinya bahkan sejak sebelum anak dilahirkan. 




Komentar

Postingan Populer