Serial OJQ : Qiya Berlatih Mengambil Makanan Sendiri

Siang ini rumah terasa sepi. Ibu belum pulang. Bapak belum pulang. Mas Ohi juga belum pulang. Hanya ada aku dan Mbak Jela yang sedang asyik mewarnai. Aku sudah lapar, tapi bagaimana caranya mengambil makanan? Apa aku bisa ya? Ah, coba saja. Aku pasti bisa. Biasanya juga melihat ibu mengambil makanan. Rasa-rasanya cukup mudah.
Pelan-pelan aku pergi ke dapur, tanpa sepengetahuan Mbk Jela yang masih asyik mewarnai. Ah, aku juga mau latihan mandiri tidak merepotkan Mbk Jela. Apalagi dia sedang sibuk mewarnai. Aku sudah besar bukan bayi lagi.
Sesampainya aku di dapur, aku naik kursi untuk mengambil piring di rak. Ah, untuk yang satu ini aku sudah biasa, meski selalu diawasi oleh ibu. Kali ini aku pasti bisa.
“Yeay! Berhasil mengambil piring.”
Setelah mengambil piring, aku turun dari kursi. Piring kuletakan di atas meja. Lalu aku menggeser kursi ke depan meja makan untuk mengambil makanan. Aku naik ke kursi lalu duduk di atasnya. Ah, ibu masak apa ya hari ini, semoga makanan favoritku, sayur sop dan tempe.
Aku membuka tutup nasi dan mengambil nasi dengan centong. Ah, ini lumayan sulit, harus ditekan dengan keras. Aku tidak bisa. Ah, tidak! Aku harus bisa. Aku pasti bisa.
Akhirnya setelah mencoba berkali-kali aku berhasil mengambil nasi. Kini giliran menuang sop. Ah, ini sih mudah. Aku pasti bisa. Aku suka kuahnya dan wortelnya. Lalu kuambil tempe dan sedikit sambal. Biar agak pedas sedikit, aku suka. Akhirnya selesai, tinggal dibawa ke ruang keluarga yang lebih luas. Aku mau makan disana sambil menemani Mbak Jela mewarnai.
Pelan-pelan kubawa makananku, aku harus jalan pelan-pelan supaya tidak jatuh. Apalagi ini ada kuahnya. Ah, ternyata agak sulit ya, aku harus hati-hati dan pelan-pelan.
Pertama-tama aku turun dari kursi terlebih dahulu. Setelah turun, kuambil makananku di meja, ini juga harus pelan-pelan. Kuturunkan ke kursi lalu baru kubawa ke ruang keluarga.
“Yeay, berhasil!” sorakku dalam hati.
Perjalanan masih jauh, ada sekitar 20 langkah ibuku sampai ruang keluarga. Kalau langkahku, yang masih 3 tahun kira-kira ada berapa banyaknya ya?
Pelan-pelan kuangkat piringku dari kursi, dan kubawa pelan-pelan. Satu langkah, dua langkah hingga lima langkah, aman. Ah, aku pasti bisa. Aku lanjut melangkah. Namun, kenapa piringnya lama-lama terasa berat ya. Ah, aku harus bertahan. Setelah langkah ke sepuluh, ah, tanganku semakin capek membawa piring ini, bagaimana ini.
PRANK!
“Qiya!” seru Mbak Jela sambil berlari ke arahku.
“Kenapa ambil makanan sendiri! Harusnya bilang ke Mbak Jela. Minta tolong Qiya! Kamu belum bisa mengambil sendiri!” ultimatum Mbak Jela. Panjang lebar dan keras. Aku hanya terdiam. Takut dengan omelan Mbak Jela yang benar adanya. Seharusnya memang aku tidak sok yes mengambil makanan sendiri. Minta tolong ke Mbak Jela yang sudah lebih besar. Pasti lebih bisa.
“Untung pakai piring plastik, coba bukan. Sudah pecah kan, bahaya lho Qiya!” omel Mbak Jela lagi. Ah,sepertinya omelannya akan panjang.
“Sekarang ayo dibersihkan, ambil lap dan kanebo!” titah Mbak Jela sambil menyendoki nasi yang berceceran ke piring.
Dengan segera aku berlari ke dapur mengambil lap kering dan kanebo.
“Assalamualaikum. Jela! Qiya! Mas Ohi pulang!”
“Waalaikumsalam, Mas” jawabku sumringah. Yes! Mas Ohi pulang, pasti bisa membantuku dari omelan Mbak Jela.
“Mas lihat Qiya! Numpahin makanan. Wong masih kecil belum bisa mengambil sendiri, malah ambil sendiri. Gak minta tolong, harusnya minta tolong Qiya!” adu Mbak Jela.
“Kan aku sudah besar, bukan bayi lagi. Aku sudah bisa ambil sendiri.” aku membela diri.
“Lah ini, nyatanya jatuh, berarti kamu belum bisa. Makanya minta tolong!” debat Mbak Jela.
“Ya enggak! Aku bisa kok! Wleee!” Aku tetap tidak terima.
“Sudah-sudah! Dek Qiya memang masih kecil Dek Jela, jangan dimarahi terus. Dia belum bisa ambil makanan sendiri. Lain kali Dek Qiya bilang ya, kalau mau makan. Minta tolong Mbak Jela atau lainnya.” pungkas Mas Ohi.
“Ayo sekarang dibersihkan sama-sama. Coba Dek Qiya dilap pakai lap kering. Sini kanebonya pinjam dulu!” kata Mas Ohi.
Akhirnya kami bersama-sama membersihkan lantai. Setelah bersih Mas Ohi mengambilkan makanan yang baru buatku sekaligus membawakannya ke ruang keluarga. Aku tinggal makan sendiri. Kalau makan sendiri aku bisa meski lama dan seringnya berceceran. Ah, tak apa-apa. Latihan mandiri, begitu kata ibu.


Komentar
Posting Komentar