Perempuan Dan Dunia Domestiknya (3)
Semoga ini menjadi part terakhir dari tulisan saya tentang perempuan dan dunia domestiknya.
***

Pernah tidak merasakan jadi perempuan pendatang baru di keluarga suami dan dianggap remeh hanya karena tidak becus mengerjakan hal domestik? Apakah pertanyaan ini terkesan sinetron sekali? Atau alur sebuah novel? Atau realita hidup? Wkwk. Apa aja deh. Pokoknya mungkin saja ada yang realita hidup, atau pertanyaan ini cukup fiktif karena ada novel yang mengambil konflik disini.
Jadi, apa aja deh ya. Entah realita entah fiksi.
Sadar tidak, saat seorang perempuan diambil alih oleh seorang lelaki, ayah si perempuan sebagai walinya berharap agar anak perempuannya dididik dengan kasih dan sayang. Sebagaimana dulu ayahnya sebagai lelaki pertama yang menimangnya, menjadi saksi kapan putrinya bicara, jalan, berlari dan lama-lama menjadi besar dan cantik.
Lalu si lelaki sebagai suami yang baik tentu ingin selalu merealisasikan pesan ayah dari istrinya. Namun, saat realita dia berada di posisi harus menaati ibunya yang merasa kurang pas dengan kelakuan istrinya, apalagi cuma hal domestik. Laki-laki harus apa?
Dia lelaki, sampai kapanpun kewajiban taat pada ibunya masih menjadi yang utama. Sedang istrinya, adalah orang baru dalam hidupnya, juga tanggung jawabnya, di pundaknya baru saja dilimpahkan kewajiban baru, mendidik dan menyayangi seorang anak perempuan. Bukan anak perempuan biasa, dialah perempuan yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
Manakah yang harus ia pilih?
Ibu yang melahirkannya atau ibu yang melahirkan anak-anaknya kelak. Dilema.
Makanya itu, suami pernah menyampaikan entah di tahun keberapa pernikahan. Menjadi perempuan alias istri itu mudah, hanya manut suami, mematuhi perintah suami selama tidak maksiat. Selesai kan?
Perempuan dengan segala perasaannya yang dominan, dengan segala keinginannya untuk dimengerti, dengan segala perasaan ingin disayang, tak melulu mudah menerima pernyataan itu. Apalagi jika dibenturkan dengan ibu suami. Apalagi jika dibenturkan dengan tuntutan harus ngawulani suami berupa mengerjakan tugas domestik tanpa memahami dengan benar esensinya. Kewajiban siapakah itu sesungguhnya? Menantu perempuannya, atau anak laki-lakinya?
Jika laki-laki dan perempuan ada di posisi sama, memahami itu kewajiban suami dan tidak mangkir serta perempuan memahami, bahwa ngawulani suami dalam hal menjalani tugas domestik adalah perbuatan mulia, sebagai bentuk mencari keridhoan suami, menjalani perintah suami, selesailah perkara. Apalagi ibu suami paham akan hal tersebut, dan tentunya tidak baik menuntut menantu perempuan mengerjakan tugas anak laki-lakinya secara keseluruhan. Ah, aman. Sakinah. Tidak ada drama keluarga. Namun, jika tidak begitu kondisinya, drama pun dimulai.
Makanya, waktu itu saya dengan santai menjawab. Oke, kewajiban wanita sangat mudah, menaati suami selagi bukan maksiat, meski terkadang ia harus menahan segala keinginannya dimengerti, disayangi, dimanjakan, selayaknya dulu dengan ayahnya. Namun, ingatlah wahai suami, kewajibanmu tidaklah selesai dengan memenuhi nafkah lahir dan batin, punya kewenangan memerintah istri selagi bukan maksiat, juga satu hal yang harus diingat, suami wajib bijak dalam segala langkahnya.
Paham apa itu bijak?
Kondisi yang tidak hanya harus benar secara syariat, tetapi juga maslahat bagi banyak pihak. Meminimalisir kerugian bagi pihak lain. Itu semua tidak hanya membutuhkan kekuatan fisik, dan otak semata, tetapi akal yang sehat, hati yang lapang, ilmu yang mendalam, lisan yang tepat memilih kalimat, kaki yang kokoh menopang, dan tangan yang kuat menyayang.
Sanggupkah?
Terus menaati perintah ibumu dan terus mendidik istrimu dengan sayang tanpa membuat air matanya berlinang.
Apalagi jika ibumu dan istrimu berada di dua kubu yang tidak menyatu?
Apa saranmu untukku, itu salah satu pertanyaanmu waktu itu.
Dahulukan ibumu, perempuan yang mengorbankan nyawanya untuk kehidupanmu. Utamakan ibumu, perempuan yang memberi air kehidupan lewat asinya, yang satu tetesnya tak bisa dibayar meski thawaf tujuh kali putaran.
Abaikan aku, perempuan baru dalam hidupmu. Asalkan, jangan putuskan aliran kita. Meski harus mengalir pelan, yang penting tetap jalan. Ajari aku, pelan-pelan karena langkahku tak selebar milikmu. Biarkan aku berproses, bukan untuk menyenangkan ibumu semata, tetapi untuk menjadikanku perempuan shalihah, yang mentaati suaminya dengan sepenuh hati, yang keren di hadirat Ilahi. Dan temani aku selalu, untuk berproses dan bertumbuh. Terakhir, berjanjilah, seberat apapun langkah, jangan pernah menggadaikan hukum syariah hanya untuk memudahkan langkah. Penuhi perintah Rabbmu, meski itu membuatku memanjangkan sabar, dan menahan langkah, dan memupus ingin.
Ingat Rabbmu, lalu ibumu. Maka perempuan sepertiku cukup menjadi bulu yang menempel di kulitmu. Akan selalu menyerta dengan setia.
Semudah itukan jadi perempuan?


Komentar
Posting Komentar