Kekuatan Super Itu Milik Ibuku

Published from Blogger Prime Android App


Saya saat ini adalah seorang ibu dengan tiga orang anak. Terkadang masih belum percaya bisa sampai di fase ini. Menikah dan memiliki anak. Padahal dulu sempat berfikir, jangan-jangan saya tidak akan merasakan yang namanya pernikahan. Kehidupan rumah tangga yang bagi para lajang sangat membuat penasaran sekaligus tampak indah. Ya, karena belum pernah merasakannya sendiri. 


Hingga sekarang, saya telah menikah dan memiliki anak yang benar-benar menyenangkan dan bonusnya memiliki suami yang baik. Buat perempuan seperti saya, memiliki suami yang baik adalah bonus. Hadiah tak terduga dari Alloh. 


Kenapa hanya bonus? Ya. 


Lazimnya, bonus tidak didapatkan oleh semua orang. Lalu bonus didapatkan setelah mengerjakan hal pokok, dalam hal ini pernikahan itu sendiri. Meski dalam Al-Quran telah disebutkan, laki-laki baik untuk wanita baik, juga sebaliknya, laki-laki tidak baik untuk perempuan tidak baik. Nah, buat saya memiliki suami yang baik, bukan karena saya juga baik, tapi karena dapat bonus alias hadiah tak terduga. Ah, rasanya saya masih kurang pantas disebut baik dengan segala kekurangan saya. 


Jadi, saya beranggapan memiliki suami yang baik adalah bonus buat saya. Hal yang perlu saya renungi adalah, bisa-bisanya saya mendapat anugerah sebaik ini, seindah ini. Kalau mengandalkan diri sendiri, rasa-rasanya kok tidak mungkin ya. Lalu siapa sebenarnya yang saya andalkan? 


Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk merenungi dan menyadari hal ini. Kebaikan-kebaikan yang menghampiri saya, mungkinkah semata karena saya orang baik. Ah, rasa-rasanya kok tidak ya. 


Akhirnya saya tersadarkan satu hal, doa ibu saya. Ya. Doa ibulah yang mengantarkan kebaikan-kebaikan yang saya dapatkan. Termasuk suami yang baik. Inilah hasil dari doa-doa khusyuk dan panjang ibu saya. Menjadikan hidup saya baik, mudah, bisa melewati kerikil-kerikil kecil, dan menyingkirkannya dengan baik. Ternyata doa ibulah yang menjadi andalan saya. Doa dalam diamnya. Doa dalam khusyuknya berkhalwat. Doa dalam semua perilakunya. Tanpa itu semua, saya bisa apa? 


Bisa jadi, hidup saya selama ini hanyalah bertumpu pada doa-doa beliau. Karena hanya doa ibulah yang mampu mengguncang arsy Nya-singgasanaNya. Hanya doa ibu, bukan bapak. 


Jika doa ibu saya memiliki kekuatan super dahsyat seperti itu, lalu bagaimana dengan doa-doa saya, sudahkah layak disebut dahsyat? Sedang jadi seorang ibu saja masih tertatih, masih suka pamrih, masih kerap merintih, dan meringis perih. Belum lagi kelakuan yang, masyaallah memalukan kalau disebut ibu. 


Bagaimana kelak dengan anak-anak saya, kalau doa-doa saya masih seadanya saja? Kalau hati tempat saya berdoa masih sering berkelana tanpa mengingatNya? 

Komentar

Postingan Populer