Perempuan dan Dunia Domestiknya (1)

Published from Blogger Prime Android App


Saya tahu ini adalah tema basi sejak jaman dahulu. Apalagi kalau ketahuan aktivis feminis, tema ini sudah hafal di luar kepala, saking seringnya dibahas. Terus kenapa bahas tema ini? Ya gak papa. Saya kepingin dan ini blog saya. Kamu mau apa?


Wkwkwkw


Slow aja deh!


Kita sepakati dulu ya, pembahasan ranah domestik yang saya maksud itu tentang pekerjaan rumah tangga. Seperti mencuci, memasak, menyapu, dan sejenisnya.


Jadi, sejak kapan ranah domestik identik dengan perempuan? Seolah-olah laki-laki tidak boleh bersentuhan dengan dunia domestik? 


Ada sejarah panjangnya dan menurut saya itu politis saja sih. Mengkerdilkan peran dan fungsi perempuan sebatas kasur, sumur dan dapur. Dan pandangan seperti itu ditunggangi oleh kepentingan politik dan ego makhluk bernama laki-laki. 


Maaf ya pak, kali ini kamu tidak saya bela!


Saya tidak akan membeberkan runtutan sejarahnya, silahkan cari sendiri! Soalnya saya juga belum tahu rentetan yang rinci, belum nyari juga. Xixixi


Perempuan dan dunia domestik melekat saat perempuan sudah menikah. Perempuan lajang tidak begitu terkena stigma seperti itu, karena masih ada ibunya yang memikul tanggung jawab penuh terhadap domestik. Meski tidak selalu ya. Ada perempuan yang beruntung tidak mengenal domestik karena ada asisten rumah tangga yang dimiliki. Mungkin tulisan ini kurang sesuai dengan mereka. Catet ya!


Pertanyaannya adalah kenapa harus jadi identik lalu mengarah ke politik identitas perempuan vs laki-laki. Seolah ada pembagian wilayah tak tertulis. Laki-laki ranah pencari nafkah di luar dan perempuan dengan dunia domestiknya. Padahal faktanya, banyak juga perempuan yang mencari nafkah, entah sebagai tulang punggung keluarga atau untuk memenuhi kebahagiaan hidupnya. 


Meski, tentu saja saat sekarang banyak sekali pasangan pernikahan yang mampu meminimalisir politik identitas tersebut. Mereka bukan berbagi wilayah kerja, tetapi berbagi peran dengan konsep saling. Bahwa ranah domestik dan nondomestik menjadi tanggungjawab bersama. Bersinergi mana-mana yang mampu menghandle ya dikerjakan saja. Tanpa perlu menerapkan politik identitas. 


Itu berita bagus kah untuk perempuan? Agar terbebas dari stigma politik identitas domestik dan nondomestik yang selama ini berjalan di masyarakat? 


Maybe yes. Maybe no!


Karena faktanya konsep saling membantu belum berlaku pada umumnya masyarakat, masih di tahap privasi dan pilihan pasangan. Kesepakatan dan diskusi panjang pasangan. Tentu saja ada satu hal yang harus diruntuhkan, ego. Perasaan lebih unggul, lebih baik, lebih segalanya dari pasangan harus diturunkan. I know, it's a difficult choice. Khususnya buat laki-laki yang selama ini seolah jauh dari ranah domestik.


Namun, keluarga yang menerapkan konsep sinergi perempuan dan laki-laki paling tidak menjadi oase bagi perempuan. Bahwa, konsep seperti itu bisa lho dijalankan. Tidak akan menjatuhkan harga diri laki-laki, dan menaikkan kasta perempuan. Karena konsep yang dibangun setara. Bersama-sama. 


Apakah konsep sinergi adalah hal baru? 


Jika mau menoleh jauh ke belakang, ada sosok laki-laki panutan segala zaman yang telah menerapkan konsep ini dalam keluarganya. Siapa dia? Kanjeng Nabi Muhammad, saw. 


Salah satu tugas kenabian Beliau adalah mengangkat derajat perempuan ke ranah yang mulia. Berbeda dengan zaman jahiliyah, dimana perempuan dinomor sekiankan, tidak ada harganya. Bahwa hegemoni ego laki-laki sangat tinggi saat itu. Kanjeng Nabi mampu meruntuhkan tembok tersebut, dengan meninggikan derajat perempuan. 


Banyak literatur yang menceritakan betapa biasanya Beliau membantu urusan domestik istrinya. Atau mengerjakan sendiri kebutuhan pribadinya, seperti menjahit baju yang robek sendiri, dan sebagainya. Beliau mencontohkan betapa sifat Basyariah sangat melekat pada Beliau. Bahwa sisi manusiawi laki-laki nyata adanya. 


Belum lagi fakta-fakta banyaknya perempuan hebat yang mampu melampaui laki-laki hidup di era Beliau. Sebut saja Sayyidah Aisyah sang ahli hadits. Lainnya? Cari sendiri yah, saya juga belum nyari lagi. Xixixi


Jadi, konsep sinergi telah lama dilaksanakan oleh Kanjeng Nabi. Telah jauh dicontohkan oleh Beliau. Itu bukan konsep baru dan kekinian. 


Pembagian peran ranah domestik dan nondomestik harusnya sudah tidak perlu dilakukan lagi. Harusnya sudah tidak relevan kan? 


Iya gak sih? 


Komentar

Postingan Populer