Homeschooling Atau Home Education?

Published from Blogger Prime Android App


Sebagai pendidik anak-anak di rumah, saya pernah mencoba dua hal tersebut. Homeschooling dan Home Education. Tentu saja yang jadi kelinci percobaan adalah anak pertama alias si Ohi. Dia korban malpraktek homeschooling saya. 


Kenapa saya sebut malpraktek?


Iyalah. Saya kan bukan praktisi homeschooling, saya hanya asal menerapkan aturan dengan konsep yang bisa diterima saya dan tentunya Ohi. Hanya berbekal membaca, trial error sendiri dan ikut kelas gratisan. Xixixi


Tentu saja dengan berbagai sumber yang saya miliki akhirnya homeschooling yang saya terapkan ke Ohi, adalah homeschooling suka-suka. Tanpa target yang ketat. Kenapa gak pakai target? Alasan utamanya soal waktu sih. Apalagi kemudian saya juga punya bayi, dan ikut suami membersamai orangtuanya. 


Sebenarnya hal itu tak layak dijadikan alasan, tetapi begitulah adanya. Waktu saya kurang fokus untuk menerapkan kurikulum homeschooling dari suatu lembaga homeschool, misalnya. Lalu apa yang saya lakukan?


Fokus pada kemampuan literasi baca tulis, yah, saya rajin membacakan buku, mengembangkan kemampuan motoriknya, logika dan nalarnya serta paling utama life skill-nya. Kemampuan life of skill menjadi acuan pertama saya saat homeschooling. Poin paling utama tentang kemandirian anak. Poin selanjutnya tentang menumbuhkan rasa ingin tahu anak alias curiosity


Kenapa dua poin di atas?


Saya waktu itu menganggap skill of life berupa kemandirian adalah hal dasar yang harus dikuasai anak. Dimulai dari hal sederhana, kemandiriannya dalam memenuhi kebutuhan pribadinya. Makan sendiri, mandi sendiri, minum sendiri, dan sebagainya. Sehingga ketika suatu saat anak harus melakukannya sendiri, kemandirian terhadap hal pribadi bukanlah hal asing untuknya. 


Lalu bagaimana dengan curiosity atau rasa ingin tahu? Yah, buat saya ini sebagai pondasi dasar keilmuan anak. Pondasi akal anak. Akal yang berfungsi baik tentunya menyimpan rasa ingin tahu yang tinggi. Buat saya, rasa ingin tahu harus dilatihkan. Akal harus diberi stimulus terus menerus supaya rasa ingin tahu menjadi hal otomatis dalam kesehariannya. Tentunya rasa ingin tahunya harus diarahkan ke hal positif, dan inilah poin utamanya. 


Apakah selesai dengan menumbuhkan kemandirian dan rasa ingin tahunya? Tentu tidak, Marimar!


Melatihkan kemandirian membutuhkan waktu yang tidak singkat, belum lagi akan ada suatu masa anak ingin dimanja juga, ogah mandiri. Dan saat hal itu terjadi, saya harus siap untuk menampung rasa manjanya. Tetap kan, yang namanya anak butuh disayang-sayang tanpa harus memikirkan kebutuhan dirinya sendiri. Itu catatan penting banget sih buat saya. Ada masa istirahat dari sikap mandiri, anggaplah begitu.


Lalu, saat melatihkan rasa ingin tahu anak, saya pun harus siap dengan segala pertanyaan yang muncul dari anak. Pertanyaan mereka mudah, dapat dipahami dengan gampang hanya yang susah jawabannya. Bukan benar salahnya jawaban, tetapi dengan bahasa bagaimana jawaban saya mampu dipahami anak seusianya. 


Saat-saat pertanyaan muncul, selalu membuat saya awkward. Gimana jawabnya, Ya Alloh! 


Mau tidak mau, suka tidak suka saya harus belajar lagi, membaca lagi, berselancar lagi, menggali pengalaman dari para praktisi atau yang lebih lama menerapkan homeschool. Yah, udah resiko kan. 


Meski homeschooling yang saya terapkan adalah yang sangat santai sekali, tetapi tetap kan saya evaluasi secara berkala. Kalau sempat dan kalau ingat. Tapi, sejauh ini pengalaman belajar dan mengajar paling berkesan adalah homeschool


Why?


Karena bisa bikin standar sendiri, target sendiri, evaluasi sendiri, tanpa intervensi dari pihak lain, dan pengkondisian anak didik terkendali. Sedikit pengaruh dari pihak luar atau lingkungan. Sangat menyenangkan. Amazing pokoknya!


Namun, saat membandingkan dengan konsep homeschool yang sebenarnya, saya insecure dan ragu-ragu sekaligus malu. Malu menyebutnya homeschooling karena dirasa-rasa lebih tepat disebut Home Education alias pendidikan rumah. Konsep pendidikan yang berbasis aturan di rumah tersebut. Sesuai lingkungan rumah tinggal, sesuai yang disepakati orang rumah, sesuai nilai-nilai dan visi misi yang dibangun dalam rumah. 


Oke deh! Saya ralat. Ohi menjalani Home Education bukan Homeschooling. Gak masalah, yang penting tujuan tercapai. Ini konsep lama, dan banyak ditetapkan keluarga-keluarga yang mengutamakan pentingnya pendidikan. Biasanya mereka memiliki aturan, nilai-nilai yang disepakati semua warga dalam rumah tersebut. 


Dan, hingga kini, meski dengan terseok-seok saya masih menerapkan konsep Home Education dalam menemani masa tumbuh kembang anak-anak. 


Sampai kapan? 


Entahlah. Mungkin sampai anak besar, bahkan sampai mereka berkeluarga. Soalnya konsep pendidikan rumah sangat saya rekomendasikan buat ibu-ibu rumah tangga. Bahwa, seorang wanita, ibu yang beraktivitas di rumah atau di luar rumah bisa berperan sebagai pendidik yang keren buat anak-anaknya. Dengan membuat konsep pendidikan rumah. Anak tidak melulu hanya mendapat pendidikan di bangku sekolah, rumah pun bisa dijadikan bangku pendidikan. 


Semua perempuan mampu lho, why not?



Komentar

Postingan Populer