Bila Aku (Ibu) Bosan

Published from Blogger Prime Android App

Segala sesuatu yang berulang setiap hari akan menimbulkan kejenuhan alias kebosanan. Begitu lumrahnya yang terjadi. Itu berlaku untuk pekerjaan apapun dan dilakukan oleh siapapun. 

Umumnya. Pasti ada yang gak umum soalnya. Gak pernah merasa jenuh alias bosan. 

Kebosanan itu termasuk dimiliki oleh ibu-ibu yang hidup di ranah domestik saja. Eh, ada juga yang hidup di ranah non-domestik dan merasa jenuh juga. 

Kejenuhan kan memang hal normal yang bisa menghampiri siapapun manusia. Dan kali ini saya mau cerita kejenuhan ala ibu-ibu domestik kayak saya. 

Sebagai mantan aktivis jalanan, alias dulunya suka gak betah di rumah, meski kalau capek kerjanya ya tidur seharian, angrem di rumah, lalu berhadapan dengan realita harus di rumah seharian itu sungguh membosankan. Itu sih yang paling bermasalah buat ibu domestik seperti saya. 

Lama-lama mati gaya dengan semua pekerjaan domestik yang tidak disukai. Xixi. Namun, mau bagaimana lagi, ya harus tetap dijalani. Konsekuensi pernikahan harus terus berjalan secara sadar dan akal yang sehat. 

Ada kerjasama dengan pasangan yang harus dibangun. Mau tidak mau, suka tidak suka, ikatan janji pernikahan bukanlah untuk dipermainkan, apalagi janji di hadapan Allah. Sangat sakral bukan?

Akhirnya hanya kompromi-kompromi yang bisa dijalankan. Sederet pemakluman, empati dan simpati yang dipertajam, jalinan komunikasi yang baik dengan pasangan. Adalah sederet hal-hal yang harus dilakukan. Apalagi pernikahan yang sudah berjalan lebih dari satu atau dua tahun. Bukan lagi perasaan yang menggebu-gebu sebagai pondasinya. Namun, kesadaran tanggung jawab serta kenyataan tentang pilihan kita, dan apa yang ada di hadapan kita. 

Itu tidak mudah tentunya. 

Apa kabar rasa bosan dan jenuh?

Hal yang pasti akan ditemui dan harus dihadapi setangguh-tangguhnya.

Jujur, saya tergelitik dengan pesan seorang penulis buku anak, Kak Tascha Liudmila dalam bukunya, Bila Aku Bosan. Buku ini jadi salah satu buku berharga di koleksi perpustakaan kami. Buku tentang emosi yang penyampaiannya dengan narasi yang nyata keseharian anak serta kata-kata berima yang bagus. Akkk, saya terkesan sekali dengan rangkaian kalimatnya. Kapan-kapan saya tulis reviewnya di blog ini. 

Saat membacakan buku ini ke anak-anak, saya merasa dinasehati oleh penulisnya. Saya tersadar, bahwa bosan adalah emosi yang bisa dirasakan oleh siapapun, tidak peduli tua, muda, anak-anak dan balita. Anak-anak dan balita wajar merasa bosan, kalau orang dewasa masih merasa bosan juga, berarti ada hal yang harus dikoreksi segera sih. Seperti saya ini, harus introspeksi banyak-banyak. 

Satu kalimat penutup buku ini yang paling nampol termasuk buat orang dewasa, bila bosan, temukan harapan, buatlah kejutan, ciptakan permainan, dan nikmati keajaiban. 

Waw! Selain rimanya pas, diksinya asik, pemilihan katanya enak, dan pesannya dalam. Hope, harapan. Hal ini sering saya lupakan bahkan terkadang saya takut berharap terlalu berlebihan. Takut mendahului takdir, malu menakar keinginan yang jangan-jangan kurang pas menurut Allah. Dan sejenisnya. 

Tapi, saat ini saya sudah kembali bisa berharap. Berharap kebaikan lahir batin, keselamatan lahir batin, dengan kepercayaan penuh bahwa hari ini, detik ini adalah takdir terbaik dari Allah. Bahwa esok, selalu menyimpan harapan takdir yang lebih baik. Pasti. 

Asalkan, hati saya selalu berprasangka baik padaNya. Selalu meyakini takdir terbaik dariNya. Selalu mensyukuri kebaikan hari ini dan hari esok. Lalu menyadari dengan sepenuh hati, entah kemarin, hari ini, atau esok, asalkan takdir masih membawa saya pada mengimaniNya, itu sudah yang terbaik. Lalu saya perlu takdir lebih baik seperti apa lagi. 

Dan, masih perlukah saya menyimpan bosan di hati? 

Agak tidak tahu diri rasanya. 

Komentar

Postingan Populer