Belajar Membuat Ecobrick Bareng Anak-anak (Bagian 3)
Sampai hari ini ecobrick yang saya dan anak-anak buat belum jadi satupun. Saya memiliki 3 anak dan masing-masing anak dapat jatah satu botol berbeda sesuai ukuran usia anak. Jelas Ohi dapat paling besar, Jela dapat botol lebih kecil, dan Qiya dapat yang lebih kecil lagi.
Bukan tanpa alasan sih, menyesuaikan dengan kemampuan anak. Nggaya kan alasannya, aslinya sih memang adanya botol itu saja jadi asal pakai. Kedepannya kalau memang serius bikin ecobrick, kondisi dan spesifikasi botol juga diperhatikan. Misalnya mencari botol yang agak tebal dan jenisnya sama. Biar nanti saat mau dimanfaatkan lebih mudah.

Nah, masih ingat kan kalau saya mulai bikin ecobrick sejak liburan sekolah. Hingga sekarang botol belum penuh, masih banyak ruang yang bisa diisi. Memang sih, untuk sampah plastiknya masih berasal dari sampah rumah tangga saja, dan itu pun belum semua sampah plastik. Bayangkan sudah berapa banyak yang masuk botol, yakan.
Coba kalau saya mau mencari di jalan-jalan atau warung-warung jajan, pasti lebih banyak lagi dan bisa jadi lebih cepat penuh dan padat. Ingat ya, harus padat. Jadi, kalau hanya penuh, botol milik kita juga sudah penuh tapi belum padat. Ecobrick harus padat selayaknya batu bata. Keras dan padat.
Apa yang saya lakukan, membuat ecobrick bersama anak-anak memang masih skala rumah tangga. Jadi lebih lama. Hanya mengurangi sampah plastik sampai di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) atau di tempat pembakaran sampah, bagi yang masih membakarnya.
Namun, saya punya angan-angan juga, misalkan semua ibu-ibu dan bapak-bapak deh, biar ikut andil juga, bersedia mengelola sampah plastik dalam rumah tangganya dengan membuat ecobrick, bagus juga kan. Semua keluarga memiliki kesadaran akan bahayanya menimbun sampah plastik utamanya bagi lingkungan dan makhluk hidup lain. Bayangkan semua keluarga teredukasi dengan mengalihkan sampah plastiknya menjadi ecobrick, nah lumayan kan untuk mengurangi pencemaran sampah plastik.
Tapi ya itu masih angan-angan saja. Saya juga masih harus banyak-banyak belajar tentang persampahan ini. Paling tidak dengan tulisan ini dibaca ibu-ibu lain, barangkali membuatnya tergerak untuk mulai belajar mengolah sampah. Loh, siapa tahu kan. Jadi, peran perempuan di rumah tak sekedar urusan domestik. Eh, sampah itu masuk domestik juga? Ih, keterlaluan kalau begitu. Padahal sampah sudah jadi isu internasional.
Perempuan dengan peran kecilnya, mengelola sampah rumah tangganya dengan lebih baik. Kan keren itu. Meski kecil, tetapi sangat berguna. Kalau hanya satu dua orang perempuan mungkin tidak berarti. Kalau banyak? Nah, kan baru terasa.
Salah satu waktu yang baik dan tepat untuk mengedukasi anak-anak tentang ecobrick adalah saat proses pembuatan ecobrick itu sendiri. Saat memasukkan sampah-sampah plastik yang sudah dipotong kecil, sambil diberi penjelasan. Atau tanya jawab saja dengan anak-anak tentang sampah dan ceritakan dengan bahasa yang baik.
Salah satu narasi percakapan saya begini,
“Ohi, umurnya berapa?”
“8 tahun.”
“Tahu tidak, sampah plastik bekas jajanmu ini baru bisa hancur selama kurang lebih 300-an tahun. Ohi saja sekarang baru 8 tahun, sampah ini ratusan tahun lagi baru bisa terurai alias hilang bersatu dengan tanah. Masih lama banget kan?”
Anaknya masih loading membayangkan angka 300 tahun, padahal saya ceritanya udah berbusa-busa. Xixixi
Gak papa. Intinya tersampaikan. Dan resiko menjelaskan ke anak salah satunya harus berulang-ulang. Dengan bahasa dan contoh yang paling dekat dengan mereka. Yah, resiko punya anak yaaa.
Ternyata meski loading lama, ngefek juga. Suatu hari Ohi memperlihatkan buku pelajarannya yang menyinggung tentang ecobrick.
“Bu, itu ibu mau dibikin kreasi yah. Meja, kursi, pot bunga?” Dia bertanya sambil menunjuk bukunya.
“Oh, iya. Itu salah satunya fungsi bikin ecobrick seperti kemarin. Biar sampah plastiknya tidak menimbun di tanah, tidak dibakar, atau menyumbat aliran air, bagi yang membuang di air.”
“Ohhh.”
Begitulah narasi-narasi yang dibangun dengan anak-anak untuk sedikit demi sedikit memberi penjelasan ke anak bahwa bikin ecobrick menjadi salah satu solusi penanganan sampah plastik saat ini. Apalagi sekarang jumlah sampah plastik meningkat, penanganan masih lambat.
Lagi dan lagi, paling tidak sebagai ibu rumah tangga tidak menambah jumlah sampah plastik di TPA dan sejenisnya. Perempuan pun punya peran dalam skala kecil untuk kepentingan dunia. Kelestarian lingkungan dan makhluk lain yang tinggal di dalamnya.
Seperti kata pepatah. Mulai dari yang terkecil, terdekat, termudah, dan terima ter-teran. Hehe.


Komentar
Posting Komentar