Belajar Ecobrick Bareng Anak-anak (Bagian 2)

Saya meyakini dengan menjadi perempuan apalagi ibu membuat saya bisa banyak melakukan hal manfaat meski hanya di rumah. Maksudnya tidak memiliki pekerjaan di luar atau punya kesibukan lain di luar. Dari dalam rumah pun ibu-ibu bisa memanfaatkan banyak hal dari aktivitas sederhana.


Itu tidak termasuk aktivitas domestik ala ibu-ibu ya, semacam mencuci, menjemur, melipat baju, menyetrika, menyapu, mengepel, memasak, dan sebagainya. Termasuk juga aktivitas yang hanya bisa dikerjakan oleh perempuan, seperti, mengandung, melahirkan, menyusui. 


Oke ya.


Contoh aktivitas itu ya ecobrick ini. Sederhananya dengan melakukan ecobrick ternyata saya bisa melakukan berbagai hal sekaligus. Dari satu kegiatan bernama ecobrick, ada banyak kegiatan berfaedah lain yang turut andil, dan otomatis saya kerjakan. Sambil menyelam minum air, begitu peribahasanya. 


Nih, lihat ecobrick yang saya dan anak-anak bikin sudah sebanyak ini. Masih kurang padat itu sih, harus banyak-banyak sampah plastik lagi. 



Saya kasih nama sesuai anak-anak, karena mereka yang memasukkan. Saya bantu menyiapkan saja. 


Kenapa sih saya harus melibatkan anak-anak saat membuat ecobrick?


Pertanyaan yang paling utama sepertinya. Ngapain sih saya repot-repot melibatkan anak-anak dalam proses membuat ecobrick.


Justru ini adalah hal sederhana, sepele, tapi bisa digunakan sebagai media belajar yang baik dalam ranah keluarga. Murah meriah tapi tidak murahan. 


Bagaimana bisa?


Membuat ecobrick dimulai dari mencari botol bekas air mineral atau minuman lainnya. Ukuran bebas, mau yang besar atau kecil sesuaikan saja dengan kebutuhan. Dibersihkan dan dikeringkan sampai benar-benar kering.


Selanjutnya mencari sampah plastik. Semua jenis sampah plastik bisa dibuat ecobrick. Bekas plastik makanan, minuman, atau wadah lainnya bisa digunakan untuk membuat ecobrick. Asalkan, tentu saja sudah dibersihkan dari sisa-sisa makanan dan sudah dikeringkan. Jadi, sampah plastik dalam keadaan bersih dan siap dipakai. 


Dari dua kegiatan di atas, saya bisa memanfaatkan tenaga anak-anak. Mereka bisa membantu mencari botol, sampah plastiknya, membersihkan dan mengeringkan. Kegiatan tersebut akan mengasah motorik kasar dan halus anak. Anak berlatih peka dan fokus mencari sampah. Mereka belajar mengidentifikasi bedanya sampah plastik dengan non-plastik lalu memilahnya. Termasuk memilah sampah hasil konsumsi sendiri. Mereka belajar memberi atensi lebih pada jenis-jenis sampah plastik. Secara dasar saja, seperti sampah plastik yang bening, bekas jajan, yang tipis yang tebal. Dan sebagainya. 


Proses selanjutnya adalah memotong kecil-kecil dan memasukkan ke dalam botol plastik yang sudah disiapkan. 


Jelas sekali apa aktivitas yang dilatih dalam proses ini. Ya, melatih motorik halus anak. Konsentrasi saat memotong, saat memegang plastik. Menguji kekuatan tangannya saat menggunting, mulai dari plastik yang tipis hingga yang lebih tebal. Anak secara langsung belajar merasakan bedanya menggunting plastik tebal dan tipis, dimana kesulitan menggunting dua jenis plastik tersebut. 


Kekuatan tangan dan jari yang dilatih dengan cara menggunting bisa juga digunakan sebagai aktivitas prewriting (sebelum menulis). Ya, menulis membutuhkan kesiapan jari tangan dan tangan yang terlatih kekuatannya. Tidak sesederhana memegang pensil dan menggerakkannya ternyata. 


Selain motorik halus dan konsentrasi, ecobrick melatih ketahanan dan kesabaran anak. Menggunting plastik satu persatu dan memasukannya sedikit demi sedikit hingga selesai. Anak-anak berlatih menyelesaikan sesuatu dan mengerjakannya dalam jangka waktu sekian menit, misalnya. Buat saya ketahanan, kesabaran adalah hal yang sangat penting dilakukan. Biar anak belajar merasakan sebuah proses, sebelum menikmati hasil. Bagaimana proses adalah suatu hal yang pasti harus dilakukan sebelum menuai hasil. 


Setelah semua sampah masuk botol, sampah ditekan-tekan sampai dasar agar padat. Hal ini membutuhkan kekuatan tangan, kesabaran, dan konsentrasi. Bagian ini paling susah, karena memastikan sampah plastik menghuni semua ruang di dalam botol sampah sampai padat. 


Bagian menekan sampah ini sulit dan penting dalam proses pembuatan ecobrick. Saya sendiri belum berhasil melakukan dengan baik. Tetapi tetap harus dilakukan sampai  benar-benar padat dan bisa diisi lagi. 


Jadi, gimana? Seru kan membuat ecobrick bersama anak-anak. Banyak hal yang bisa dipelajari bersama. Tentunya itu sebagai upaya saya sebagai ibu rumah tangga untuk minimal mengurangi sampah plastik level rumah tangga sehingga tidak menimbun di Tempat Pembuangan Akhir. 


Keuntungan lainnya, kegiatan ini juga sebagai sarana pendidikan dalam keluarga. Buat semua anggota keluarga. Nah kan, bahkan meski hanya dari rumah pun saya sebagai ibu masih bisa melakukan pendidikan ke anak, salah satunya dengan membuat  ecobrick sebagai media pembelajarannya. 


Gimana ibu-ibu yang baca ini, mau praktik juga? Seru lho!

***"

Baca bagian 1 disini






Komentar

Postingan Populer